Aku Gak Nafsu

Brrrrrrrrrr

Muncraaattt!

Ludahmu bau

Aku gak suka!

Tapi bibirmu lembut, aku suka

Sayangnya aku gak nafsu

Mainan mu sama lonte!

Aku bukan lonte

Mereka recehan di dompetmu

Aku juga bukan ratu

Selir! Aku selir!

CK ck ck

Decakmu bikin geli

Mau kusumpal lidah?

Tapi aku gak nafsu!

Meski disumpal, suaramu banyak

Bisa dari pantat kayak kentut

Lha wong orang kaya…

Jongos gak cuma satu

Duit gak selembar

Masih banyak pajak buat dimakan

Jangan kau kira

selangkangan ku obralan

Langka! Ini langka!

Gak percaya?

Kadang tahta berkilauan

Tapi busukmu tak terpendam

Mambu!

Masih harum lonte

Asal mereka mandi…

Kalau kamu gak mandi?

Aku gak nafsu!

Kadang duit gemerlapan

Bikin silau sampai galau

Tapi liurmu tetap menjijikan

Masih bagus punya anjing

Asal mereka gak di dekatku

Kalau kamu di dekatku?

Aku gak nafsu!

Advertisements

ERAT…

Malam itu, dingin melumat hangat. dinding ikut menggigil, langit-langit kamar mulai membeku, kaca jendela berembun, mengetuk perlahan. aku terbangun di tengah malam. sepi, hanya bisikan sepoi angin teramat dingin menyentuh permukaan kulit menyapa begitu mengejutkan. malam ini, di kamar asing, aku memikirkan kembali alasan-alasan yang membawaku kemari. apa yang terjadi, mengapa begini, mengapa aku disini. pertanyaan yang belum bisa ku jawab satu per satu. hanya satu yang kini ku tahu, tangan yang mendekap ku ini nyata. tangan manusia yang masih bernafas. aku merasakannya, denyut nadi dan detak jantung, bahkan suara jarum jam yang memburu  terdengar sangat jelas. aku tidak bermimpi. aku disini, bersamanya. sangat nyata.

“an, ada apa?” Suara lirih, tegas namun lembut sampai di telinga ku sangat jelas. terdengar begitu jelas.

tatapan mata sayu ingin terpejam kembali, namun berupaya bertahan demi jawaban dari pertanyaan yang terdengar begitu cemas.

aku tersenyum dan menggeleng perlahan. lalu mengusap keningnya agar tertidur kembali. siapa dia? aku kembali berfikir.

dulu pernah ada. seseorang yang melingkarkan tangannya di pinggang ku, terlelap sangat nyenyak. aku terus memandanginya, ia begitu indah. aku ingin terus memilikinya, memandang mata sayu berhias bulu mata lentik.

“An, ada apa?” dia bertanya dengan mata terpejam. tangannya menggenggam tanganku erat. semakin erat. bibirnya berusaha mengatakan sesuatu, namun ia kembali terlahap kantuk.

ku usap sekali lagi rambut hitamnya. ku kecup kedua mata dan menyusulnya ke alam mimpi.

malam itu, sama seperti malam sebelumnya dan – – ku harap– akan tetap sama di malam berikutnya.

malam ini semakin dingin, sangat dingin. di kamar ini, kamar yang sama, dekapan yang sama, genggaman tangan yang sama, pertanyaan yang sama pula. aku merasakan segalanya sama. mungkin aku bermimpi telah kehilangan dia, tapi ternyata tidak. kini, aku terbangun, semua masih sama.

tangan terlingkar ke pinggul kecilku, begitu erat. mengapa begitu erat? ia tidak membiarkan ku terlepas dari rengkuh lengan kurusnya. mengapa? ini terlalu erat.

Ketakutan mulai merasuki hati dan fikiranku. gelisah. mengapa terlalu erat? aku tidak berani menyentuh tangan itu, apalagi untuk menatap wajahnya, aku takut…

malam ini, aku ingin terbangun dari mimpi. menerima kenyataan pahit yang harus ku telan mentah. dengan dingin yang mencekam, keramahan telah menenangkan, tapi aku tidak boleh terlena, aku tetap harus menerima kenyataan. bahwa ia yang kini tertidur pulas di sebelahku adalah orang yang berbeda.

“siapapun engkau. genggaman dan dekap mu terlalu hangat, aku disesaki rasa nyaman yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. kau yang bertanya padaku dengan lembut telah berhasil meluluhkanku. ingin sekali aku menikmati malam yang sama setiap hari, bersama dekap erat mu layak kau takut kehilangan diriku, layak kau begitu mengenalku dan sangat mencintaiku. siapapun engkau, kau telah berhasil membuatku luluh, siapapun engkau, kau telah berhasil menggantikannya walau sekejap, walau untuk beberapa detik saja. tapi aku harus kembali. kita berdua harus kembali pada kenyataan. esok, kala fajar menyongsong dengan kesombongannya, kau harus melepaskan lingkaran tanganmu, aku harus merelakanmu. kita akan berpelukan sejenak, akan saling mengecup kening, dan tersenyum sebelum akhirnya berpisah. siapapun kau, aku ingin kau tetap tinggal disini, mungkinkah lelucon ini bisa terkabul? karna suatu saat nanti aku akan merindukanmu. nanti, aku akan mencarimu. sedangkan kau disana akan acuh dan melupakanku. siapapun engkau, aku sangat berterima kasih padamu. terima kasih atas malam mu.”

AKU MASIH MANUSIA

   Aku merindukan dirinya padahal baru saja ku rebahkan tubuh di kasur kecil yang mulai menyempit karena terlalu banyak boneka. Baru saja aku duduk di belakangnya, berbincang panjang dengan keseruan berbeda. baru saja ku tatap wajahnya, dari samping ia terlihat seperti Wisnu–mantanku dulu. Baru saja, mungkin semenit lalu. Tapi kini, aku rindu.

   Jangan tanya siapa dirinya, karena aku pun belum mengenalnya. Seperti sudah sangat lama. Seperti sudah sangat dekat. Sejak kapan? Entah lah…mungkin bertahun silam kami berjumpa, atau sebenarnya baru dua hari lalu. Aku selalu kecewa dan dipenuhi tanda tanya jika menyadari kebenaran itu. Bagaimana bisa, kami berbincang seperti sahabat sedari TK, atau serupa saudara sedarah yang tinggal serumah, atau pun seperti sepasang kekasih yang usia pacarannya sudah setua kredit rumah. Entah, rasanya aku mengenal dia lebih baik dari siapapun. Nyatanya, tidak sama sekali.

   Ku pahami rasa rindu yang menjalar ini…bukan rindu bernafas cinta, ku harap, semoga saja rindu karena dia sangat lucu dan berikan warna lain di hidupku. Yah…semoga saja…aku pun tidak mampu menjaminnya karena aku pun–ternyata–masih manusia. Kini yang ku rasa hanya sepi yang disebabkan oleh kenakalan rindu yang menggeliat di lubuk hati. Ah! Mungkin kau tak percaya…tapi cobalah perhatikan,  bagaimana aku tersenyum–yang untuk pertama kalinya–tanpa kepalsuan. Bisa dikatakan aneh dan lebay, aku pun merinding saat menyadarinya.

   Siapa namanya? Bahkan kadang ku lupa. “Dia” begitu saja lebih mudah. Dia adalah seorang lelaki yang ordinary. Berlogat Jawa kental dan sangat medok. Sepertinya pintar, tapi entahlah…akan ku tanyakan lagi esok. Yang aku tahu, dia sangat berbakat. Bakat yang bisa tergolong hebat. Karena ia seperti Armstrong yang menjadi orang pertama menginjakkan kaki di bulan. Dia adalah orang pertama di dunia ini yang menginginkan ku menangis. Haha dia percaya bahwa menangis bisa membuatku bahagia. Ya, mungkin. Lihat saja nanti, apakah ia menjadi sebuah obat yang dikirim oleh Tuhan untuk menyembuhkan penyakit ku ini. (Lain kali akan ku ceritakan tentang penyakit ku). Atau mungkin, dia hanya sepercik racun yang datang dari tempat paling rahasia bernama takdir. Lagi-lagi takdir yang ku bicarakan adalah sakit hati. Saat ini, yang jelas aku bahagia. Dicampur khawatir. Di campur sedih. Jika ini merupakan resep masakan, mungkin bisa menjadi gado-gado yang sangat lezat. Perasaanku tak karuan.

   Karena baru saja ku temui. Aku belum sepenuhnya memahaminya. Tak sepenuhnya mempercayai nya. Tidak juga berharap banyak darinya. Benar saja, aku masih sangat percaya pada kalimat yang ku buat sendiri, “Siapapun yang datang dan mengucapkan “hallo” ia juga akan pergi dan mengucapkan “goodbye” pada akhirnya.” Kalimat ini ku buat karena hati telah lelah menjadi pelabuhan yang menjadi sandaran kapal hanya untuk sementara. Jadi, semudah ia mengatakan “hello” pertama kalinya, secepat itulah ku anggap dia telah pergi jauh. Dengan begitu aku tidak perlu menangis lagi dan mengeluh.

   Sejak awal ia seperti ku. Tidak bisa cepat mempercayai seseorang. Ia hanya memiliki tujuan untuk berteman. Pas. Aku pun begitu. Ia telah memiliki kekasih, namun jauh. Tadi ia bercerita panjang lebar, aku iri. Bukan iri karena ia punya kekasih, aku iri karena wanita itu sangat cantik. Bagaimana tega Tuhan ini menciptakan wanita secantik dirinya? Haha tapi kata-kata ku ini tulus loh. Mereka berdua terlihat serasi, dan usia pacaran mereka sudah seperti kredit motor. 3 tahun. Itu bukan waktu yang singkat, karena aku selalu gagal di tahun kedua.

   Aku harus bersyukur menemukan dirinya. Ia yang begitu tulus menemani, ia yang selalu banyak bicara tapi banyak mendengar juga. Ia yang kini sangat takut pertemanan ini akan lekas usai. Andai ia tahu, aku tidak ingin ini usai. Bahkan setelah ia menikah. Tadi, saat kami semi-kencan, aku sempat meminta ia mengenalkan pacarnya padaku. Bukan keppo, hanya saja aku tak ingin pertemanan ini berakhir konyol karena wanita itu mungkin bisa cemburu. Tapi itu belum perlu, tak usah terburu-buru, ini baru dua hari. Atau 27 jam dikurangi waktu tidur. Kira-kira hanya 11 jam ? Entah lah hahaha…

   Hey kau yang entah siapa namanya, maaf aku tak ingin mengingat namamu, karena aku masih takut mengingatmu. Kau! Terima kasih sudah menemaniku. Malang sekali nasib ku jika kau tak ada. Memang aneh, tapi ku harap kau suka. Sebatas teman, bisa lebih. Semoga bersaudara. Hanya saja hati ini terlalu jujur, aku rindu. Aku ingin waktu memberi sehela nafas tuk sejenak lebih lama duduk di sebelahmu. Kau pasti tahu bagaimana kesepiannya diriku. Maklumilah jika aku rindu. Pada siapa lagi? Berbagi seperti ini jarang ku jumpa. Kau!! Jika kau pergi, tak usah katakan “selamat tinggal” karena nanti kau bisa kembali kapanpun kau mau. Kau!!! Kini aku hanya menyayangimu sebatas teman, tapi jangan salahkan waktu–yang terkadang–suka menggoda hati untuk menyerahkan diri dan tunduk pada kedahsyatan cinta. Jangan salahkan aku jika aku ini masih manusia.

Langkah Merayu

Aku melihatnya, bagaimana mata merintih sengsara, berjuang bendung air mata yang hendak terjun. Tersekat rasanya. Seperti aku terjebak dalam sebuah kotak tanpa setitik lampu dan tanpa pintu keluar. Aku melihatnya, bagaimana ludah tertelan tuk bungkam lidah berungkap. Kala keringat bagai tambang terkuras dan air mata bagai aib terpendam.

“ Aku mencintainya.” Bisik kemunafikan hati yang mulai menjelma sebagai takdir.

Derap langkahnya terdengar begitu ringan selayak kapas. Ia berjalan mendekatiku dengan kilau senyumnya begitu merayu. “ Kasih.” Sapanya. Selalu dengan nada yang sama. Begitu ceria.

Setiap kata rayu terlontar, setiap detik itu pula angan mulai memberontak, membayangkan bagaimana kaki ini cukup lihai untuk melarikan diri darinya. Hanya saja kemunafikan telah mengalir di sela-sela nafas ini, menjadi jati diriku, menguasai setiap indra, menjauhkan ku lebih dalam dari cinta murni yang ku pupuk sekian lama. Dan aku hanya bisa tersenyum menjawab sapa itu. Sapa dari cinta yang tidak pernah kuucap dalam bait-bait doa ku, bahkan untuk sekali saja, atau bahkan untuk selirih mungkin nada suara. Cinta ini tak pernah kuingini. Cinta yang begitu menyulitkan sejatiku.